Indo Leisure & Surf
Jalan Jepun Pipil III No 10 Gatsu Timur
Denpasar Bali Indonesia
Office : +62361 464744, 8009413
Fax : 0361 464744
Emergency Number : +62 852-3783-5305
Email: info@indoleisure.net ; reservation@indoleisure.net

LEMBATA CALENDER OF EVENT 2011

LEMBATA CALENDER OF EVENT 2011

FEBRUARY/MARCH:
1. GUTI/OIT NALE:
Traditional ceremony is held on february to march every year. It is happened along side of mingar beach. The kind of sea warm having green and red colour. Before they seek it, they must begin with traditional ceremony, led by clan chief. According their tradition if they mistake todo the ceremony, suddenly sea warms (nale) will be lost or become sea water

MARCH/APRIL:
1.  SAWAR/TUNU KWARU NUJA:
Traditonal ceremony is held at customary house of each clan which the propose of opening ……… eating young corn especialy for chief of clan. In general it is held in each village in Lembata Regency.
2.     TOBU NEME FATE:
The traditional ceremony is held before they start for hunting the whale by chief of clans (Langovujo) as well as fisherman at the location of whale stone in Lamanu village for calling the whale. The propose of the ceremony is to evaluate the production and whale hunting activity last year as well as to prepare whaling hunting activity on the next year. They also forgive each other of doing mistakes. The Lamalera people believe that a guilty which is not forgiven cause if unsuccessful for hunt the whale even give them troubles. After finishing  the ceremony, the Land lord goes to
Labalekan mountain to make the ceremonial for getting the blessing from their ancestor.It is held on April 29 every year

3.     BUKA KARUN:
This traditional ceremony is located in Karun Watuwawer village. The chief of the clan ask the blessing to ancestor of Karun (Ina Karu) to allow them  to cook some kinds of food likes, young corn, cassava, peanut in the small holes having gasseus. Only half an hour all foods are ready to consume.

MAY:
1.     MISA LEVA:
Catholic church tradition inheritance to open the whale season. The propose of this activity is to bless traditional equipments such as, harpoon, boat, rope and also the fisherman by the priest and also to rememberance for hunting season. It is held at chapel St. Petrus in Lamalera beach.
2.     LEVA NUANG:
It is whale hunting season (from May 2-October 31). Every day they go for seeking the fish in the ocean especialy whale. They use peledang sailing boat and tempuling spear. When they see the whale in the beach, they shout balae….baleo. It is symbolised for calling the people to come to the beach for hunting the whale.

JUNE
1.    REKA UTAN:
This traditional ceremony is held at in Atawatung traditional village especialy at customary house of each clan. The main propose  is for thanks giving ceremony for ancestor., especially bean harvest. Beside that this also to open ……. eating bean for the clan chief. During the ceremony, they performe their local art and dance likes, liang namang dance, sole oha dance,ect.This ritual is series/ of the traditional customary house of the traditional village, which located souronded In Ile Ape volcanoe,. In this ceremony they hung the chicken in each their customary house, as a

Symbol to villagers to be carefully and to realise, their bad behavour in their familly.

JULY
1.    BAKO MEDEH.
This tradition is held to open the new farm. They also do this before planting season coming. This ritual is getting the blessing of god and ancestor. It is performed by traditional boxing (hadock). It is a symbol giving the fertil to the land and getting abundant of corps.
2.    AHAR
Ahar traditional ceremony is function to legitimate the first born child of a couple belongs to memebers of familly clan. In this ceremony mother and her child are isolated in a place made of coconut leaf. They are forbiden to eat until this ceremony is finished. Visitors will be entertinet with local dance.
3.REWA IKA
It is held by clan chief for calling the fish in Lewolein beach. This is very unique because after calling the fish by clan chief, the fishes appear by them selves. Locala peple may caight it directly by hand.

.
e. Daya Tarik    :    Atraksi budaya yang beragam berupa ritual adat, tari-tarian, olahraga tradisional.
f. Aksesibilitas     :    Ada angkutan umum yang melayani jalur ke Lusilame dengan kondisi jalan yang belum beraspal (jalan tanah dan berbatu).
g. Permasalahan    :    Keterbatasan sarana dan prasarana pendukung pariwisata seperti moda transportasi, jalan, penginapan  dan rumah makan.
3. Kampung Tua Lamagute.
a. Lokasi    :    Kecamatan Ile Ape dengan jarak tempuh 26 km dari Kota Lewoleba.
b. Jenis Obyek    :     Wisata Budaya.
c. Deskripsi    : Kampung tua yang terdiri dari beberapa rumah adat  yang digunakan sebagai ritual atau upacara dimana masing-masing mempunyai kelengkapan upacara seperti keramik, gading dll. Kampung ini merupakan tempat diadakannya pesta kacang, yang dilaksanakan pada rumah adat – rumah  adat. Pesta kacang diadakan sebagai ucapan syukur bagi hasil panen khususnya panen kacang sekaligus membuka pantangan makan kacang bagi pemangku-pemangku adat.
d. Status Pengembangan    :     Potensial untuk dikembangkan sebagai kampung adat.
e. Daya Tarik    :    Tempat pelaksanaan upacara dan pesta adat dari beberapa suku.
f. Aksesibilitas     :    Kualitas jalan menuju obyek adalah jalan beraspal yang dapat ditempuh selama 2 jam dari Lewoleba, ada tangga menuju ke obyek yang lebih dikenal sebagai tangga 1000.
g. Permasalahan    :    Kondisi obyek yang kurang terawat sehingga dapat mengancam kelestarian DTW Budaya ini serta keterbatasan sarana dan prasarana pendukung.
4. Pasar Barter Labala.
a. Lokasi    :    Labala Kecamatan Wulandoni dengan jarak tempuh 47 km dari Kota Lewoleba.
b. Jenis Obyek    :     Wisata Budaya.
c. Deskripsi    : Pasar barter merupakan salah satu pasar tradisional yang menggambarkan transaksi barang pada jaman dahulu sebelum manusia mengenal uang sebagai alat pembayaran. Aktifitas pasar Labala dimulai pada jam 10.00 pagi yang ditandai dengan tiupan peluit (Buri) dari petugas (mandor) yang mengawasi kegiatan barter.
d. Status Pengembangan    :     Potensial untuk dikembangkan.
e. Daya Tarik    :    Tetap mempertahankan tradisi  jual beli dengan cara barter.
f. Aksesibilitas     :    Ada angkutan umum yang melayani rute ke pasar Labala meskipun kondisi jalan yang belum beraspal.
g. Permasalahan    :    Keterbatasan sarana dan prasarana pendukung pariwisata seperti moda transportasi, hotel dan rumah makan, kerusakan lingkungan akibat aktifitas perdagangan.

2). Wisata Alam.
1. Pantai Pedan.
a. Lokasi    :    di Kecamatan Ile Ape dengan jarak tempuh 13 km dari Kota Lewoleba.
b. Jenis Obyek    :     Wisata Pantai.
c. Deskripsi    : Pantai ini memiliki pasir putih yang terhampar sepanjang pantai, dengan habitat pohon bakau yang tumbuh di sekitar pantai. Wisatawan yang datang dapat menikmati panorama alam dan bermain di area pantai yang cukup luas.
d. Status Pengembangan    :     Potensial untuk dikembangkan.
e. Daya Tarik Alam    :    Ponorama pantai yang indah dan hamparan air laut biru dan jernih.
f. Aksesibilitas     :    Cukup mudah dicapai, sekitar 60 menit dari Kota Lewoleba menggunakan angkutan darat dengan kondisi jalan yang cukup baik.
g. Permasalahan    :    Keterbatasan sarana dan prasarana pendukung pariwisata seperti moda transportasi, hotel dan rumah makan, pengelolaan obyek dan keterlibatan masyarakat lokal serta kerusakan lingkungan dan sumber daya alam yang ada akibat aktivitas pembangunan.
2. Pantai Waijarang.
a. Lokasi    :    di Kecamatan Nubatukan dengan jarak tempuh 10 km dari Kota Lewoleba.
b. Jenis Obyek    :     Wisata Pantai.
c. Deskripsi    :    Keindahan panorama pantai didukung dengan pemandangan bukit yang indah dan selat Boleng. Di pantai ini cocok bagi pengunjung untuk menikmati wisata pantai seperti ski air, renang, berjemur, camping, voli pantai dan hiking.
d. Status Pengembangan    :     Potensial untuk dikembangkan.
e. Daya Tarik Alam    :    Ponorama alam dengan hamparan pasir putih di sepanjang garis pantai.
f. Aksesibilitas     :    Sangat muda dicapai dengan menggunakan angkutan darat karena kondisi jalan beraspal sampai di obyek.
g. Permasalahan    :    Keterbatasan sarana dan prasarana pendukung pariwisata seperti moda transportasi, hotel dan rumah makan, pengelolaan obyek dan keterlibatan masyarakat lokal serta kerusakan lingkungan dan sumber daya alam yang ada akibat aktivitas pembangunan.
3. Ekowisata Pantai Ohe – Wewabelen.
a. Lokasi    :    Desa Kolontobo Kecamatan Ile Ape dengan jarak tempuh 13 km dari Kota Lewoleba.
b. Jenis Obyek    :     Wisata Pantai.
c. Deskripsi    :    Pantai ini memiliki pasir putih yang terhampar sepanjang pantai, dengan habitat pohon bakau yang tumbuh disekitar pantai.
Wisatawan yang datang dapat menikmati panorama alam dan bermain di area pantai yang cukup luas serta dapat menikmati tarian/kesenian yang kerap dipentaskan dipanggung terbuka.
d. Status Pengembangan    :     Potensial untuk dikembangkan.
e. Daya Tarik    :    Ponorama alam dengan pasir pantainya yang putih, makam dan sumur tua serta kerangka tulang ikan paus.
f. Aksesibilitas     :    Sangat muda dicapai dengan menggunakan angkutan darat karena kondisi jalan beraspal sampai di obyek.
g. Permasalahan    :    Keterbatasan sarana dan prasarana pendukung pariwisata seperti moda transportasi, hotel dan rumah makan, pengelolaan obyek dan keterlibatan masyarakat lokal serta kerusakan lingkungan dan sumber daya alam yang ada akibat aktivitas pembangunan.
4. Pantai Mingar.
a. Lokasi    :    di Desa Pasir Putih Kecamatan Nagawutung dengan jarak tempuh 36 km dari Kota Lewoleba.
b. Jenis Obyek    :     Wisata Pantai.
c. Deskripsi    :    Pantai Mingar memiliki pasir putih dengan garis pantai yang panjang. Wisatawan/pengunjung dapat melakukan kegiatan wisata pantai seperti selancar dan surfing karena mempunyai gelombang pantai yang cukup tinggi.
d. Status Pengembangan    :     Potensial untuk dikembangkan.
e. Daya Tarik Alam    :    Ponorama alam dengan hamparan pasir putih di sepanjang garis pantai.
f. Daya Tarik Budaya     :    Ritual pengambilan Nale (sejenis cacing laut berwarna hijau dan merah) yang muncul di bulan purnama.
g. Aksesibilitas     :    Terdapat  angkutan umum yang menuju ke obyek.
h. Permasalahan    :    Keterbatasan sarana dan prasarana pendukung pariwisata seperti moda transportasi, hotel dan rumah makan, pengelolaan obyek dan keterlibatan masyarakat lokal serta kerusakan lingkungan dan sumber daya alam yang ada akibat aktivitas pembangunan.
5. Pantai Lewolein.
a. Lokasi    :    di Kecamatan Lebatukan dengan jarak tempuh 27 km dari Kota Lewoleba.
b. Jenis Obyek    :     Wisata Pantai.
c. Deskripsi    :    Pantai Lewolein merupakan pantai rekreasi yang sangat indah  dan memiliki keistimewaan yaitu komposisi letak dan panorama alam. Dari pantai ini pengunjung bisa menyaksikan sunset di Puncak Gunung Ile Ape.
d. Status Pengembangan    :     Potensial untuk dikembangkan.
e. Daya Tarik    :    Ponorama pantai dengan hamparan pasir putih keabu-abuan. Terdapat pula batu wadas yang dipercaya memiliki kekuatan magis.
f. Aksesibilitas     :    Untuk mencapai obyek tersebut sangat mudah karena  sarana angkutan darat  yang banyak dan jalan beraspal sampai ke obyek.
g. Permasalahan    :    Keterbatasan sarana dan prasarana pendukung pariwisata seperti moda transportasi, hotel dan rumah makan, pengelolaan obyek dan keterlibatan masyarakat lokal serta kerusakan lingkungan dan sumber daya alam yang ada akibat aktivitas pembangunan.
6. Pantai Bean.
a. Lokasi    :    di Kecamatan Buyasuri dengan jarak tempuh 82 km dari Kota Lewoleba.
b. Jenis Obyek    :     Wisata Pantai.
c. Deskripsi    :    Pantai pasir putih Bean merupakan pantai  pasir putih yang unik dalam bentuk kristal-kristal halus yang membentang dari barat ke timur sejauh kurang lebih 4-5 km dengan ombak laut yang bergulung terus menerus dan pecah secara teratur. Pantai dengan kondisi ini cocok untuk berselancar dan surfing. Pantainya cukup landai dan aman bagi pengunjung yang ingin berekreasi di pantai.
d. Status Pengembangan    :     Potensial untuk dikembangkan.
e. Daya Tarik    :    Keindahan panorama pantai dengan hamparan pasir putih serta hempasan ombak yang cukup besar..
f. Aksesibilitas     :    Dapat di tempuh ke lokasi tersebut dengan angkutan umum.
g. Permasalahan    :    Keterbatasan sarana dan prasarana pendukung pariwisata seperti moda transportasi, hotel dan rumah makan, pengelolaan obyek dan keterlibatan masyarakat lokal serta kerusakan lingkungan dan sumber daya alam yang ada akibat aktivitas pembangunan.
7. Air Terjun Lodowawo.
a. Lokasi    :    di Kecamatan Nagawutung dengan jarak tempuh 42 km dari Kota Lewoleba.
b. Jenis Obyek    :     Wisata Tirta.
c. Deskripsi    :    Air Terjun Lodowawo menawarkan panorama alam yang alami, sejuk dan menyenangkan. Dengan ketinggian tebing sekitar 30 m, kita dapat menyaksikan luncuran air yang terjun bebas dari atas mengenai bebatuan yang ada di bawahnya.
d. Status Pengembangan    :     Potensial untuk dikembangkan.
e. Daya Tarik    :    Keindahan air terjun yang unik karena mengalir dari  ketinggian serta mengalir pada dinding bebatuan.
f. Aksesibilitas     :    Dapat di tempuh ke lokasi tersebut dengan angkutan umum namun melewati jalan yang  sebagian besarnya tanah dengan kondisi yang berlubang.
g. Permasalahan    :    Keterbatasan sarana dan prasarana pendukung pariwisata terutama akses jalan menuju objek. Selain itu juga permasalahan keterlibatan masyarakat lokal serta kelembagaan dalam pengelolaan obyek.
8. Sumber Gas Alam “Karun”
a. Lokasi    :    di Kecamatan Atadei  dengan jarak tempuh 43 km dari Kota Lewoleba.
b. Jenis Obyek    :     Wisata Alam.
c. Deskripsi    :    Mayoritas lokasi sekitarnya vulkanis sehingga muncul adanya gas bumi yang berupa uap-uap panas yang berkekuatan cukup besar. Keunikannya adalah digunakan oleh masyarakat lokal sebagai dapur alam. Mereka meggali lubang-lubang kecil dan memasukan berbagai jenis makanan seperti ubi-ubian, kacang-kacangan, jagung muda dan lain-lain dan setelah matang dapat dikonsumsi dengan aroma yang khas.
d. Status Pengembangan    :     Potensial untuk dikembangkan.
e. Daya Tarik    :    Gas alam berupa uap panas yang keluar dari dalam bumi.
f. Aksesibilitas     :    Dapat di tempuh ke lokasi tersebut dengan angkutan darat umum namun melewati jalan yang  sebagiannya tanah dengan kondisi yang berlobang.
g. Permasalahan    :    Keterbatasan sarana dan prasarana pendukung pariwisata terutama akses jalan menuju objek. Selain itu juga permasalahan keterlibatan masyarakat lokal serta kelembagaan dalam pengelolaan obyek.
9. Gunung Ile Ape.
a. Lokasi    :    di Kecamatan Ile Ape  dengan jarak tempuh 15 km dari Kota Lewoleba.
b. Jenis Obyek    :     Wisata Alam Pegunungan.
c. Deskripsi    :    Ile Ape merupakan satu gunung yang masih aktif di Kabupaten Lembata. Gunung ini memiliki panorama alam yang indah dengan keberadaan kawah-kawah di beberapa bagian gunung.
d. Status Pengembangan    :     Potensial untuk dikembangkan.
e. Daya Tarik    :    Panorama alam pegunungan Ile Ape. Di obyek ini wisatawan dapat melakukan kegiatan pendakian (hiking) sambil menikmati alam yang berada di sekitar pegunungan.
f. Aksesibilitas     :    Untuk mencapai lokasi ini pengunjung dapat menggunakan kendaraan roda empat dan roda dua, tapi dengan kondisi jalan tanah dan jalan setapak.
g. Permasalahan    :    Ketersediaan sarana dan prasarana wisata yang masíh terbatas terutama moda transportasi dan jalan menuju obyek ini.

10. Sumber Air Panas Sabu Tobo.
a. Lokasi    :    Desa Ile Boli Kecamatan Nagawutung dengan jarak tempuh 20 km dari Kota Lewoleba.
b. Jenis Obyek    :     Wisata Tirta.
c. Deskripsi    :    Di lokasi ini terdapat hutan tropis yang di dalamnya mengalir sungai Sabu Tobo yang jernih dan sejuk Kurang lebih 200 meter sebelah kiri jalan pengunjung dapat menemukan sumber mata air panas.
d. Status Pengembangan    :     Potensial untuk dikembangkan.
e. Daya Tarik    :    Mata air panas yang mengalir di antara tebing dan akar-akar pohon, dan punya keunikan lainnya yaitu air panas ini langsung dikonsumsi.
f. Aksesibilitas     :    Jalan beraspal, namun terdapat beberapa bagian ruas jalan yang berlubang. Sumber air panas alam Sabutobo dapat ditempuh kurang lebih 1 atau 2 jam dengan kendaraan roda dua dan roda empat dari Lewoleba.
g. Permasalahan    :    Ketersediaan sarana dan prasarana pariwisata yang masíh terbatas terutama moda transportasi dan jalan menuju obyek ini. Selain itu ancaman pencemaran aliran sungai akibat sampah rumah tangga.

3). Aneka Atraksi:
Atraksi budaya merupakan salah satu daya tarik wisata  yang perlu dilestarikan. Hal ini karena atraksi budaya mengandung nilai yang diyakini sebagai salah satu unsur kepercayaan dalam tatanan masyarakat setempat. Beberapa ritus yang sering dipentaskan sebagai event pariwisata di Kabupaten Lembata adalah:
1).     Leva Nuang.
Leva Nuang adalah ritus pembuka masa perburuan ikan paus secara tradisional oleh masyarakat setempat yang dimulai dengan seremonial adat dan misa pelepasan para nelayan. Ini dimaksudkan agar hasil tangkapan berlimpah ruah dan dijauhkan dari berbagai jenis kemalangan yang dapat menimpah para nelayan. Ritus ini dibuka pada awal Bulan Mei setiap tahun dan berakhir pada Agustus sampai September, dan terjadi di Desa Lamalera Kecamatan Wulandoni.
2).     Reka Utan (pesta kacang).
Reka Utan merupakan rangkaian upacara makan kacang baru di rumah adat pada kampung lama/adat oleh salah satu suku atau beberapa rumpun suku terkait dengan mempersembahkan kacang baru sebagai pertanda syukur kepada Tuhan atas hasil panenan selama satu musim tanam. Upacara ini terjadi pada Bulan Juli s/d Nopember.
3).     Buka Karun.
Buka karun adalah ritus pembuka masa dimana masyarakat boleh menggunakan areal karun (dapur alam) untuk memasak makanan tertentu seperti ubi-ubian, daging-dagingan, kacang-kacangan, jagung dan jenis makanan lainnya dengan menggunakan uap yang bersumber dari dalam perut bumi (gas alam). Buka Karun terjadi di Desa Atakore Kecamatan Atadei.
4).     Guti / Oit Nale.
Guti / Oit Nale adalah ritus yang dibuat untuk mengawali pekan  penangkapan ikan laut nale sejenis cacing laut. Ritus ini dilakukan oleh ketua suku yang diyakini sebagai pemilik asal muasal ikan dimaksud. Guti / Oit Nale terjadi di Desa Pasir Putih (Mingar) Kecamatan Nagawutung.
5).     Ahar.
Ahar merupakan ritus inisiasi seorang bayi yang baru lahir atau orang dewasa yang hendak masuk ke dalam satu suku tertentu dengan cara mengurung bayi dan ibunya didalam rumah selama sepekan dengan pantangan-pantangan adat yang sangat sulit. Ahar juga berlaku bagi pasangan  yang baru menikah. Penyelenggaraan Ahar secara sukses diyakini  akan dijauhkan dari berbagai macam penyakit. Ahar  terdapat di Desa Atakore Kecamatan Atadei dan terjadi pada saat ada peristiwa kelahiran warga yang adalah penduduk desa setempat. Dalam Upacara ini diikuti dengan tarian tradisional dan lagu-lagu daerah setempat.
6).     Bako Medeh.
Bako Medeh adalah upacara yang dibuat saat hendak membuka sebuah kebun baru. Yang dimaksudkan dengan kebun baru adalah kebun adat yang dimiliki secara pribadi atau secara kolektif oleh suku. Bako Medeh adalah ritus meminta izin kepada para arwah leluhur sekaligus meminta agar tanaman dilindungi dari berbagai hama penyakit untuk menghasilkan panenan yang berlimpah ruah.
7).     Hadok.
Hadok  adalah tinju tradisional untuk mengawali musim tanam di kebun adat yang juga merupakan salah satu bagian dari ritus Bako Medeh. Bako Medeh dan Hadok terdapat di Desa Lusilame Kecamatan Atadei.

8).     Rigum Keluok.
Rigum Keluok adalah acara  pesta panen di kampung lama Lewogolen, Desa Lusilame sebagai ucapan syukur kepada Yang Maha Kuasa dan Leluhur ”Peni dan Laba” yang diyakini sebagai penjelmaan padi dan jagung. Dalam Upacara ini dilakukan perontokkan/pemisahan  biji padi dari bulirnya dengan cara menginjak atau memukul bulir-bulir padi yang telah diletakkan di atas tikar dengan ukuran besar yang dianyam dari daun lontar. Dalam Upacara ini ditampilkan tarian tradisional.
9

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

*

2011 © InkThemes. All rights reserved